Kamis, 09 Juni 2011

EPISODE KEMISKINAN DI 'KAMPUNG IDIOT'

Oleh Andi Nur Aminah (republika.co.id)
 
Kemiskinan yang sangat lama menghasilkan generasi yang kekurangan gizi.

Jemari kaki dan tangan lelaki itu terlihat sangat pendek. Lima jemarinya utuh, tapi tak bisa digerakkan atau dipakai menggenggam apa pun. Badannya terlihat kerdil. Kulitnya kasar dan legam. Rambutnya kusam. Dagunya dipenuhi jenggot yang sebagian sudah mulai memutih.

Tukimin (44 tahun), lelaki tersebut, hanya bisa terduduk diam. Dia adalah satu di antara empat bersaudara yang semuanya menderita keterbelakangan mental. Selain Tukimin, ada Miratun (40), Legi (32) dan Sinem (27). Mereka adalah warga Desa Krebet, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Senyumnya selalu merekah memperlihatkan geliginya yang menguning. Tak jarang, wajahnya tiba-tiba berubah bloon.

Perempuan yang bibirnya tak bisa terkatup rapat ini, hanya bisa menatap orang dengan pandangan hampa. Legi sejak lahir sudah bisu dan tuli. Ia hanya bengong saat ditanya namanya siapa. “Dia tidak bisa bicara, dia gagu,” ujar Miratun, kakaknya sambil tertawa.

Sinem, adalah bungsu dari keluarga yang semuanya idiot ini. Ia hanya bisa ngesot di lantai tanah rumahnya. Sinem tak bisa beranjak dari duduknya di tanah tanpa alas itu. Ia baru bisa meninggalkan tempatnya jika ada orang lain yang menggerakkannya. Diajak bicara pun sulit. Jika ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, semuanya tak jelas. Seorang warga desa membisikkan, jika Sinem yang malang itu pernah digagahi oleh pamannya sendiri.

Miratun, dengan segala kekurangannya, menjadi tumpuan ketiga saudaranya. Miratunlah yang merawat ketiga pasien idiot, kakak dan adik-adiknya itu. Sambil tetap mengumbar senyum, Miratun menuturkan, ia pernah menikah dengan lelaki yang juga idiot dari kampung sebelah. “Tapi tidak lama, saya ditinggalkan, dia ada di kampungnya,” ujar Miratun.

Namun, tak seluruh anak pasangan Kasan dan Sukinah yang sudah almarhum itu menderita idiot. Menurut Patona (24), Miratun memiliki saudara delapan orang. “Ibu saya buta, tapi tidak idiot,” ujar Patona, keponakan Miratun.

Patona mengatakan, keluarga besarnya pernah tinggal satu atap di rumah peninggalan Kasan dan Sukinah. Namun beberapa tahun lalu, mereka hijrah ke Surabaya dan mencari pekerjaan. Patona yang kini memiliki seorang anak balita, sempat khawatir dengan kondisi keluarga besarnya. Kini, Patona hanya datang sesekali menengok paman dan bibinya. Sebagai anggota keluarga yang normal, ia pun mengaku tak bisa berbuat banyak. “Mau diapa, kondisi mereka seperti ini,” ujarnya lirih.

Painten duduk bengong di depan tungku perapian. Perempuan idiot yang usianya sekitar 40 tahun itu sesekali mengangkat panci di atas tungku.

Saat ditanya masak apa, dia hanya tersenyum. “Hanya gandum dan daundaunan yang ada,” ujar Ginem. Dia satusatunya anggota keluarga ini yang bisa diajak berkomunikasi. Ketiganya memiliki postur tubuh yang kerdil dan sulit berbicara lancar. Boinem, tingkah lakunya seperti anak lima tahun yang bermain-main di tanah dengan acuhnya. Padahal, usianya sudah 35 tahun. Mungkin itu satu pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat Desa Krebet dan Sidoharjo, Kecamatan Jambon, serta desa Karang Patihan dan Pandak, Kecamatan Balong, Ponorogo. Betapa tidak, hampir di setiap sudut desa, kita menyaksikan orang-orang idiot. Karena itulah, jika berkunjung ke bumi reog ini, orang-orang dengan mudah menunjukkan tempat di mana orangorang yang mengalami keterbelakangan mental ini berkumpul. “Kampung idiot? Di sini ada empat desa, di sana memang banyak orang-orang idiot,” ujar Welas, warga Ponorogo.

Keluarga Miratun tak sendiri. Di empat desa itu, ada ratusan warga yang kondisinya hampir sama dengan Miratun bersaudara. Hari itu, rumah Miratun cukup ramai. Puluhan warga yang menderita keterbelakangan mental atau idiot berkumpul. Sebagian besar perempuan. Usia mereka sekitar 30 tahun. Tapi ada pula yang masih terlihat belia.

Wajah-wajah mereka tak memperlihatkan semangat. “Sedih menyaksikan semua ini,” ujar Menteri Sosial RI Salim Segaf Al Jufri saat mengunjungi sekelompok warga idiot di Desa Krebet.

Kemiskinan yang sangat lama, di masa sekitar tiga dekade lalu, diyakini pernah terjadi di dusun ini.

Patona mengakui, berpuluh tahun lamanya keluarga paman dan bibinya hanya bisa makan gaplek dan tiwul. Kemiskinan yang bekepanjangan telah mengakibatkan lahirnya generasi-generasi yang idiot. Saat itulah malapetaka kemiskinan berawal.

Desa Patihan, Pandak, Sidoharjo, dan Krebet adalah tempat bermukimnya generasi-generasi yang lahir dengan kondisi yang mengalami kecacatan mental. Desa Sidoharjo berada di lereng sebelah utara. Desa Karang Patihan di lereng timur, sementara Desa Pandak berada di tenggara. Namun, jarak antardesa mencapai puluhan kilometer yang dipisahkan hutan dan perbukitan kapur.

Kehidupan mereka sangat miskin. Tapi, bagi keluarga idiot, hampir tidak ada yang bisa mencari nafkah sen diri. Jangankan untuk bekerja, berkomunikasi dengan orang lain pun sulit. Mereka bisa tidak makan jika tak ada bantuan dari orang lain. Karena tak bisa diberdayakan, solusi yang ditawarkan Kementerian Sosial adalah akan membangunkan ‘rumah kasih sayang’. Di rumah makan khusus bagi warga idiot inilah, akan disediakan menu makanan sehat dan bergizi. Taruhlah sudah diberikan, terus yang masak siapa? Mereka tinggal datang makan pagi, siang, dan malam di tempat itu,” ujar Salim.

Rumah makan yang tahun ini juga akan direalisasikan Mensos Salim itu rencananya akan dibangun di beberapa titik. Di lokasi permukiman yang berdekatan, misalnya, ada 100 hingga 200 orang, di situlah rumah kasih sayang akan dibangun. Bentuknya cukup dari kayu dan tak perlu mewah-mewah. Yang penting bersih, makanan ada dengan gizi yang cukup.

Mereka tak bisa diberdayakan, dan hanya bisa menunggu uluran tangan orang lain.

Untuk urusan makanan, masih banyak di antara kita yang berpikir, menu apa yang akan dipilih hari ini. Bahkan sering kali, menu yang tersaji di depan mata pun masih bersisa. Sementara, warga kampung idiot di Ponorogo sana, harus menunggu kapan mereka bisa makan nasi lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar